Senin, 10 September 2007

setitik racun



Disini bersama gelap dan dinginnya malam,
aku mencoba menulis lagi,
setelah sekian lama tangan ini diam kaku.
Lamunan menegurku agar tak larut terlalu jauh
dalam ikatan mata,
dimana semua yang nyata
ternyata palsu digaris kejujuran.
aku ngga mau menjadi siapapun diluar sana,
aku mau aku yang tetap begini,
aku yang bodoh karna tak peduli title dibalik nama,
aku yang tersenyum karna masalahku adalah teman,
aku yang tak mau taw apa itu sahabat,
aku yang tak peduli siapapun,
karna...
kamu...
dia....
dan mereka...
adalah duri
dengan setitik racun yang tersenyum.


Sabtu, 08 September 2007

Kadang...



Kadang mimpi harus dilupakan,
entah itu karna ketidaksanggupan,
atau memang karna lekuk mungilnya garis tangan.
Diam bukan berarti tak ingin.
Kadang ada kalanya banyak kata yang ingin terucap,
tapi aura kejujuran mjd pertanyaan.
Kadang mata ingin terjaga hingga bulan berpulang,
tapi apa daya tubuh ini tak sanggup lagi
menggeliat dlm sulaman nafsu keremajaan.
Kadang maksud tak bisa terucap,
kadang juga tak bisa dibagi,
tapi airmata yang kan ceritakan kisahnya.
Sadarkah kau bahwa api itu bgt panas ?
Tahukah kau diluar sana begitu dingin ?
Tapi jikapun kau harus pergi,
janganlah lupa kenakan jaketmu.
Kenakan seakan tak kan ada setitik anginpun
yang bisa menyentuh tubuhmu.
Dan jika semua tlah usai,
pulanglah dgn senyum dan candamu...

Minggu, 02 September 2007

Untuk teman dan sahabatku...



Ketika hatiku redup dalam keraguan,
kau menjadi bintang dan bulanku.
Untuk teman dan sahabatku,,,
terima kasih atas waktu
dan rasa tulusmu selama ini.
Kau inspirasi...
dalam syair dan khayalku yang termimpi jauh.
Ketika aku menangis....
kau yang menepuk pundakku
dan membesarkan hatiku.
Saat aku kesepian...
kau datang dengan roman kisahmu yang manis.
Memang sang waktu bukan milik kita,
tapi perpisahan tak kan pernah memutus ikatan kita,
karna hanya teman sejati
yang tak kan pernah menghilang dari hatiku.
Doa dan senyumku...
kan tetap mengiring langkahmu diluar sana...

Sabtu, 01 September 2007

Gelisah...



Malam ini terlalu panjang tuk dapat kuterjemahkan.
Hatimu terlalu kotor tuk dapat kuagungkan.
Kini resahku perlahan mulai merajut airmata,
dan aku sudah berada diujung gelisah.
Jika kau mau tau apa yang kurasakan kini,
tataplah mataku...
Lihatlah bayangan duka yang kau goreskan.
Lihatlah dengan jelas seberapa parah tetesan darahnya.
Seberapa besar luka yang masih menganga.
Apa kau tahu bagaimana rasanya ?
Apa kau mengerti bahasa airmataku ?
Dapatkah kau pahaminya ?
Atau kau hanya menganggapnya angin lalu.
Hanya kesedihan yang dirangkul kebohongan.
Kebohongan yang selalu merajakan kemunafikan,
dan membuat kegelisahan menjadi ratunya.
Jika memang mungkin itu yang kau rasakan,
hanya satu permintaan yang kumohonkan padamu,
Janganlah kau sapa diriku...
Karna jika ingin kuputuskan...
Bukan perpisahan yang kutangisi...
Tapi justru pertemuan yang kusesali...